Tampilkan postingan dengan label Rubric. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rubric. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Mei 2018

Tips 4 Cara Mengatasi Anak Suka Memukul


Tips 4 Cara Mengatasi Anak Suka Memukul.- Setiap orang tua tentunya bingung menghadapi ulah anak yang suka memukul. Kalau kita perhatikan, memang anak laki-laki biasanya lebih mudah melakukan tindakan agresif secara fisik dibandingkan anak perempuan.

Sebelum mencari stategi yang tepat untuk mengatasi ulah memukulnya, coba kita perhatikan hal-hal apa yang mungkin menjadi pemicunya. Apakah saat ia menonton televisi saja dan ingin meniru tokoh kartun, atau saat ia ingin mengekspresikan emosi, atau justru hanya untuk mencari perhatian.

Ada beberapa cara yang perlu kita lakukan untuk mengatasi ulahnya:

1.   Menegur dan Memberi Pemahaman


Ketika anak memukul, memang kita harus menegurnya tapi ingat bahwa tidak perlu dengan menggunakan cubitan ataupun pukulan juga. Cukup dengan langsung memegang tangannya dan tatap matanya sambil berkata dengan tegas seperti:
Sayang, memukul itu tidak baik dan tidak dibenarkan. Orang jadi kesakitan karena kita. Sekarang minta maaf sama kakakmu
Hal ini lebih efektif dibandingkan kita ceramah panjang lebar sambil memarahinya.


2.   Coba Berikan Time Out
      
Time Out di sini bukanlah hukuman, tapi memberikannya waktu dan ketenangan untuknya agar memikirkan kesalahan yang diperbuatnya. Misalnya, setelah anak ketahuan memukul katakan padanya:

Nak, karena kamu tadi memukul kakak, mamah kasih time out 10 menit, pikirkan kesalahanmu tadi
Semasa time out berusahalah untuk membiarkannya tenang dan tidak perlu menceramahinya panjang lebar. Setelah time out selesai, baru ajaklah ia berkomunukasi tentang perilakunya.


3.   Bersikap Konsisten
      

Hal yang perlu diingat adalah selalu bersikap konsisten. Jadi setiap anak melakukan hal yang tidak baik, selalu juga pada saat itu berikan ia teguran tegas. Arti tegas di sini bukanlah mengeluarkan kata-kata dengan intonasi yang tinggi atau tangan kita di pinggang, yang justru akan malah menambah masalah baru. Pastinya dengan kasih sayang dan tempo tenang sambil
fokus melihat matanya.


4.   Introspeksi Diri dan Anggota Kelaurga Yang Lain


Anak sebenarnya paling mudah belajar dari mencontoh apa yang dilihatnya. Selain tontonan film, kita bisa coba evaluasi diri sendiri atau anggota keluarga yang lain, apakah sering juga menggunakan pukulan untuk melampiaskan emosi? apabila iya, mari bersama-sama mengubah kebiasaan itu untuk memberikan teladan yang baik untuknya.



Demikian Tips 4 Cara Mengatasi Anak Suka Memukul, dengan memberi perhatian lebih ektra kepada anak kita dan memberi kepercayaan jika anak mampu menjadi anakyang memiliki sifat terpuji. Ajarkan pada anak kita arti kasih sayang sesama manusia, terutama pada teman dan keluarganya.
Baca selengkapnya

Rabu, 09 Mei 2018

Menjadi Guru Emas Yang Educator


Peran Guru Emas yang pertama adalah sebagai pendidik (educator). Sebagaimana makna pendidikan adalah seni membentuk manusia. Membentuk manusia berarti proses mengubah pola pikir, pola sikap dan perilaku. Dan seni di sini berarti dilakukan dengan jiwanya, kedalaman cinta dan penuh keindahan.

Di sinilah seorang guru dituntut untuk memahami makna pendidikan secara utuh dan kemampuan memandang dengan mata hati. Ada jiwa yang hidup (biofili). maka sebagai pendidik (educator), ia harus memiliki spiritual.

Sementara sikap menurut Taliziduhu Ndraha (1997), adalah
"adalah kecendrungan jiwa terhadap sesuatu dan menunjukan aktualisasi pendirian. Ia menunjukan arah, potensi dan dorongan menuju sesuatu 'itu'. Sedangkan perilaku (behavior) adalah operasionalisasi dan aktualisasi sikap seseorang terhadap suatu situasi atau kondisi lingkungan"
Maka untuk melakukan transfer of learning, mengubah pola pikir menjadi pola sikap dan perilaku, dibutuhkan seorang guru yang mengajar dengan kedalaman jiwa. Jika anda seorang guru, maka anda harus berperan sebagai seorang pendidik (educator), dimana anda harus memiliki keteladanan, kedalaman cinta, senyuman, keindahan dan rasa cinta. Sumber dari itu semua adalah kecerdasan spiritual.

Ruh Spiritualitas Yang Kokoh
"Yang akan sampai ke anak didik adalah apa yang ada di hati guru, ikhlasnya hati guru mukhlis pula anak didiknya, Ujubnya hati guru, ujub pula yang sampai pada mereka"
Di sinilah seorang pendidik (educator) harus memaknai sebuah keikhlasan. Mendidik adalah proyek besar dalam membentuk manusia, oleh karena itu ia harus memiliki energi dan tali penghubung yang kuat antara hatinya dengan Tuhan.

Inilah makna ikhlas sebagai enrgi dan tali penghubung tersebut yang akan melapangkan jalan seorang hamba untuk menerima limpahan kasih sayang dan kebesaran-Nya, sehingga akan memperoleh kedamaian hidup dan terbebas dari segala rasa cemas dan rasa takut.

Maka sebagai guru, ia akan mendapatkan kemudahan dalam mentransfer pengetahuan, pola pikir, pola sikap dan mengubah perilaku menuju kebaikan.

Profesionalisme Guru Emas hanya akan punya makna, jika ia dibalut oleh semangat spiritualisme yang kokoh. inilah sebuah semangat yang selalu percaya bahwa segenap laku jejak kehidupan profesional kita selalu ditautkan pada pengabdian kepada Yang Maha Mencipta.
"Dan sesunguhnya, sholatku, ibadahku dan hidup matiku hanyalah untuk Allah SWT Sang Pencipta Alam"
Sebab itulah, Guru Emas tidak hanya cerdas dalam praktek manajemen pengelolaan kelas, namun juga mereka yang hatinya selalu rindu akan mesjid. Guru Emas tidak hanya fasih bicara mengenai stategi pembelajaran, namun mereka juga senantiasa fasih berzikir memeuja kebesaran Sang Pencipta. Dan Guru Emas tidak hanya tangkas mengelola tugas dan mengambil keputusan, namun mereka juga selalu mau bangun di tengah malam; berkontemplasi, membangun sebuah meeting yang sangat intens dengan Sang Pemelihara Jagat Raya.

Keteladanan (Modelling)
"keteladanan membangun hubungan, memperbaiki kredibilitas dan meningkatkan pengaruh"
"Diri anda lebih penting daripada pengetahuan Anda"
Mungkin telinga kita sudah akrab dengan kata-kata "Kami mau bukti, bukan janji", "Praktekan apa yang kau khutbahkan!". Kata-kata tersebut mengacu pada keteladanan (meodelling). Sering anak didik kita tidak tertarik dengan cerita kita, karena ada kontradiksi: ketidaksesuaian antara kata-kata dan tindakan kita.

Semakin banyak kita memberi teladan, semakin mereka tertarik dan mau mencontoh kita. Mengapa mereka tertarik? karena mereka merasakan kesebangunan, kecocokan antara keyakinan dan perkataan kita dengan perbuatan kita.

Jadi, memberi teladan adalah salah satu cara ampuh untuk membangun hubungan dan memahami orang lain. Ini juga berarti anda tak perlu bersusah payah, tetapi dampak untuk anak didik tetap lebih kuat. Keteladanan juga akan menambahkan kekuatan kedalam pengjaran kita. Bahwa dalam proses pembelajaran segalanya berbicara. Dan tidak ada yang berbicara lebih keras dari pada tindakan.
Jadi, pilihlah setiap langkah kita dengan penuh kesadaran.

  • Teladankan cara bicara/komunikasi kita
  • Akui setiap kerja
  • Tersenyumlah
  • Gunakan energi untuk lebih banyak menciptakan energi
  • Jadilah pendengar yang baik 

Kedalaman Cinta

Doris Lee McCoy, Ph.d penulis buku Mega Traits for Successful People (Career Life Institute : 1994), Melakukan wawancara terhadap 1000 orang Amerika yang berprestasi tinggi dibidangnya. Hasilnya, ternyata mencintai perkerjaan menjadi urutan pertama. Mereka yang berprestasi tinggi ternyata adalah orang-orang yang menikmati apa yang dilakukan dengan sepenuh hati. 

Sekarang, coba kita refleksikan kembali, apakah kita selama ini mengajar dengan kedalaman cinta? Apakah kita memiliki sikap-sikap penyebar, terkendali dan tidak mudah marah terhadap kelakuan siswa.
Baca selengkapnya

Minggu, 06 Mei 2018

Agar kita Menjadi Teladan Bagi Anak


Agar kita Menjadi Teladan Bagi Anak.- Banyak orang tua bertanya bagaimana cara mendapatkan anak yang saleh. Tapi terkadang mereka lupa kalu anak yang saleh tidak didapatkan begitu saja saat dilahirkan. Orang bijak berkata :

"Seorang bayi yang baru lahir ibarat kertas putih tanpa noda. Orang pertama yang menulis kertas tersebut adalah orangtuanya. Bagus tidaknya tulisan yang dihasilkan tergantung pada mereka". 

Salah satu "tulisan" yang hendaknya dituangkan orang tua dalam kertas putih seorang anak adalah keteladanan. Anak akan lebih mudah memahami sesuatu jika ia melihat contoh langsung dari orang tuanya. Orang tua adalah guru dan orang terdekat yang harus menjadi panutan. Orang tua harus bisa menjadi figur ideal bagi anak-anaknya. Karenanya, sebagai orangtua  kita dituntut bekerja keras memberikan contoh dalam perilaku. Insya Allah, dengan cara ini anak akan mudah diingatkan secara sukarela.

Berikut ini sikap yang harus kita tunjukan agar kita menjadi teladan bagi si kecil :

1.  Menghargai Orang Lain.

Jika mengharapkan buah hati kita mampu menghargai  perasaan dan hak orang lain, Kita harus memulainya dengan menghargai perasaan dan hak mereka. Tunjukan kepada anak-anak bahwa setiap orang berbeda dan  memiliki kepribadian yang unik.  Tunjukan kepada anak bahwa kita mau dan bisa menghargai perbedaan tesebut. Hal ini akan sangat bermanfaat sebagai bekal ketika anak mulai berinteraksi dengan kawan-kawan sebayanya.


2.  Sopan Santun

Kata-kata sederhana seperti "maaf", "terima kasih" dan "tolong" harus sering kita ucapkan. Hal ini akan membuat anak meniru dan memahami bahwa bersikap sopan santun merupakan bagian dari perilaku dalam kehidupan. Perlihatkan juga sikap menghargai orang-orang di sekitar kita. Tunjukan dalam interaksi sehari-hari saat kita memperlakukan orang-orang yang lebih tua, saudara sebaya dan keponakan yang lebih muda.


3.  Tegas

Sikap tegas seseorang dibentuk dari lingkungannya. Lingkungan yang kurang mendukung ketegasan dapat membentuk pribadi yang lemah. Ciri-ciri seseorang yang kepribadian tidak tegas adalah kurang percaya diri, mudah mengikuti arus dan sering bertindak gegabah.


4.  Tunjukan Antusiasme

Antusiaslah dengan apa pun yang sedang kita kerjakan. Jangan terlihat malas dan ogah-ogahan karena Antusiasme adalah kunci produktivitas dan inovasi. Penelitian menunjukan, anak-anak berprestasi selalu menunjukan antusiasme pada hal-hal yang sedang dikerjakan. Tentu saja, hal itu biasanya mereka dapatkan dari contoh terdekatnya, yaitu keluarga.


Masih banyak lagi cara yang bisa dilakukan untuk memberikan teladan kepada anak-anak kita. Intinya, orangtua adalah cermin bagi anak-anaknya. Kita harus mulai menyadari bahwa kesalahan yang dilakukan anak tidak semerta murni kesalahan mereka. Di dalamnya terdapat andil kesalahan dari cara mendidik orangtuanya.


Demikian artikel Agar kita Menjadi Teladan Bagi Anak. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Terimaksih telah membaca tulisan ini. Sampai berjumpa di artikel selanjutnya.
Baca selengkapnya

Kamis, 03 Mei 2018

Ini Dia Kurikulum Ke-11 Indonesia "Kurikulum 2013"


Belakangan perbincangan mengenai kurikulim baru mengandung pro dan kontra. Ada yang menanggapi positif, namun tidak sedikit yang berpandang negatif. Apa alasanya? pandangan yang positif justru kurikulum harus berubah agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Kurikulum juga harus mampu menjawab tantangan masa depan sehingga dalam kontek pendidikan adalah bagaimana kurikulum dapat memperkuat kompeten si peserta didik menghadapi persaingan dan tantangan masa depan.

Sementara pandangan yang negatif lebih didasari pada realitas lapangan dimana perubahan kurikulum tidak saja berdampak pada "pekerjaan baru" tapi juga menimbulkan kebingunan di kalangan pelaksana, terutama para guru. Ini nyata-nyata sangat berimplikasi dari para peserta didik.

"Dengan KTSP saja, guru masih merasa kebingungan" bahka rasa bingung guru terhadap penerapan KTSP hingga saat ini masih berlangsung. "Eh diubah lagi dengan kurikulum yang baru" demikian ujar salah seorang guru di sebuah sekolah negeri.

Jika kurikulum 2013 itu diberlakukan akan menjadi kurikulum ke sebaelas yang dipergunakan sekolah sejak indoesia merdeka. Kurikulum baru itu akan menggantikan kurikulum tingkat satuan pada pendudukan (KTSP) tahun 2006 yang dinilai memiliki banyak kelemahan.

1.   Konten KTSP dianggap terlalu padat sehingga mata pelajaran sangat banyak dan materi yang diajarkan terlalu luas. Contohnya pada salah satu materi dipelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) kelas 4 SD mengenal otonomi daerah di amerika serikat menjadi materi kuliah jenjang starta2(S2).

2.    KTSP tidak menyentuh kebutuhan kompetesi lulusan terkait dengan tuntutan dunia kerja

3.  Urusan soft skill seperti charakter building (pembangunan karakter) dinilai tidak terakomodasi dalam KTSP. Padahal amant UUD 1945 dengan jelas diarahkan pada pembentukan manusia dan hard skill harus dibangun secara terintegrasi dan bersamaan.

4.    KTSP dianggap membeni dan merepotkan guru, mereka diharuskan menyusun silabus. Padahal silabus yang baik hanya bisa disusun oleh guru yang kompeten. guru lebih disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan administratif dari pada pembangunan pembelajaran secara kreatif dan inovatif.

Bagaimana Dengan Kurikulum Baru?


"ke depan, dibutuhkan kompetensi sumber daya manusia yang mampu berpikir global, cerdas, siap kerja namun memiliki kecerdasan hati, berkarakter mulia dan nasionalisme, kurikulum baru kelak akan mampu memenuhi kompetensi yang dibutuhkan itu." ujar Kemendikbud Mohammad Nuh.
Konon salah satu nilai plus kurikulum baru di mana proses pembelajaran tidak lagi bertumpu pada guru saja. Peserta didik diajak belajar berpikir kritis, melakukan riset, observasi dan bisa mempresentasikan serta mengambil konklusi. Jadi tidak lagi hanya bertumpu pada aspek kognitif tapi masuk juga pada pembentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan.

Khusus untuk SD, pendekatan yang dilakukan adalah pola tematik integratif dalam senua mata pelajaran, sementara SMP hingga SMA/SMK tetap menggunakan mata pelajaran.

Jumlah jam belajar di SD juga dikurangi dari 10 menjadi 6 pelajaran. Di SMP dari 12 menjadi 10. Di SMA diberlakukan mata pelajaran wajib dan pilihan dan di SMK fokus pada perkuatan keahlian.

Akhirnya semua kembali kepada para pelaksana pendidikan di lapangan. Ya utamanya para guru sang maesro dan arsitek pembelajaran. Guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang mudah dan menyenangkan bagi para siswanya. Sebab apa dan bagaimanapun kurikulumnya jika guru tidak kreatif dan tidak berkarakter semua harapan tinggal harapan.


Hanya "the best teacher"-lah yang akan mampu melahirkan "the best student and school"
Baca selengkapnya

Rabu, 02 Mei 2018

The Power Of Guru Emas



Nyalakan Inner Power

Bayangkanlah bagaimana dasyatnya jika setiap guru berhasil menyalakan inner power yang oleh Anthony Robbins disebut The Giant Unlimited Power Within dan oleh Stephen Covey disebut Inner Greatness, dan kami sering menyebut sebagai Energi Inti Terdalam (EIT). Energi ini sebenarnya sudah dimiliki oleh setiap manusia. Kita tinggal nyalakan lagi apinya.

Sebuah kekuatan yang menyadarkan keyakinan pada Sang Pecipta. Daya spiritual yang nyata yang selalu yang selalu ada pada hati kita. Dan kekuatan inilah yang melandasi langkah guru emas, dimana ia bukan hanya sekedar melakukan transformasi ilmu pengetahuan ke dalam pola pikir saja, tetapi lebih dari itu, guru emas adalah agent of change dari setiap perubahan sikap dan perilaku bangsa. Dia menjaga jatidiri bangsa, dia memancarkan keindahan nilai-nilai. Kekuatannya akan mengubah dunia, kata-katanya bisa mempengaruhi masan depan menuju kejayaan.

Karakter Guru Emas

Karakter guru emas adalah sebuah karakter yang dimiliki guru di mana ia menyadari profesinya sebagai pendidikan (Educator) juga sebagai motivator yang siap melakukan percepatan (Acceleration) dan perubahan-perubahan dalam dunia yg dinamis serta terampil (Skillfull Operator) dalam memberikan  tranformasi ilmu pengetahuan kepada anak didiknya.

Nilai-nilai tersebut berkaitan erat dengan spiritualitas (SQ) Emosional (EQ) Intelektual (EQ) dan kemampuasn untuk mengubah (AQ) yang bersinergi menjadi kekuatan dalam mengubah pola pikir dan perilaku anak didiknya. Karena implementasi dari karakter ini adalah guru harus memberi keteladanan dalam perilakunya saat mendidik  sehingga akan membuat perubahan dengan kesadaran yang mendalam baik dari aspek pola pikir, sikap maupun perilaku peserta didik.

1.  Guru sebagai Educator

Fungsi sebagai pendidik (educator) berkaitan erat dengan makna pendidik menurut Sayid Qutub, seorang pakar pendidikan, yaitu seni membentuk manusia. Membentuk manusia berarti proses mengubah pola pikir, pola sikap, dan perilaku. Dan seni di sini berarti dilakukan dengan jiwanya, kedalaman cinta dan penuh keindahan. Disinilah seorang guru dituntut untuk memahami makna pendidikan secara utuh dan kemampuan memandang dengan mata hati. Ada jiwa yang hidup (biofili). Maka sebagai pendidik (educator), Ia harus memiliki kecerdasan spiritual (SQ).

2.  Guru sebagai Motivator.

Di sini guru harus mampu memberi semangat, mengalirkan energi positif yang akan mempengaruhi jiwa anak didiknya. Motivasi guru menjadi bagian yang penting dalam memulai pembelajaran, mengolah maupun mengaplikasikanya dalam kehidupan.

3.  Guru sebagai Accelerator.

Peran guru di sini menjadi katalisator proses perubahan, sehingga menjadi sesuatu yang dinamis.

4.  Guru Skillfull Operator.

Guru yang memiliki kualifikasi skillfull operator adalah guru yang paling tidak memiliki tiga keterampilan dalam mengajar (teaching skill), antara lain:

  • Merencanakan pembelajaran
  • Mengelola pembelajaran
  • Melakukan evaluasi pembelajaran
Guru harus dapat melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus memiliki skillfull operator yang mumpuni di samping persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab, penguasaan bahan, kondisi fisik dan motivasi kerja.

Baca selengkapnya

Selasa, 01 Mei 2018

Mengenal Gaya Belajar Anak


Gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur dan mengelola informasi. Gaya belajar dan kemampuan anak penting kita pahami. Gaya belajar mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak dan cenderung bertahan sampai dewasa.

Jika kita memahami gaya belajar anak kita, maka kita akan jauh lebih mudah memberi fasilitasi/mendorong anak untuk belajar. Anak akan lebih cepat mengerti apa yang diajarkan, dan apa yang dipelajari lebih lama. Mengetahui gaya belajar anak, akan mempermudah kita menyediakan lingkungan yang mendukung dan mempermudah anak menyerap informasi secara maksimal. 

Yuk kita mengenal macam-macam gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi yang didapatnya.

1.   Gaya Belajar Visual
    Gaya belajar visual akan mengandalkan penglihatan dalam menyerap informasi. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham.

Ciri-ciri gaya belajar visual yaitu :
  • Mudah mengingat penjelasan menggunakan gambar, diagram atau vidio.
  • Tidak mudah mengingat informasi yang diberikan secara lisan. Lebih mudah mengingat hal-hal yang dilihat daripada yang didengar.
  • Gemar memperhatikan sikap tubuh dan ekspresi wajah saat mendengarkan orang lain bicara.
  • Cendrung melihat sikap, gerakan dan bibir guru yang sedang mengajar.
  • Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi.
  • Saat mendapatkan petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya kan melihat teman-teman lainya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.
  • Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarka orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
  • Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
  • Lebih suka peragaan dari pada penjelasan lisan.
  • Dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa terganggu.
  • Cepat dalam memahami bacaan.
  • Perhatian mudah teralih jika melihat sesuatu yang lebih menarik.

2.   Gaya belajar Auditori
      Gaya belajar auditori mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami dan mengingat informasi

Ciri-ciri gaya belajar auditori yaitu :
  • Mampu mengingat dengan baik penjelasan lisan seperti penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/kelas.
  • Cepat hafal lirik lagu atau jingle iklan.
  • Cenderung banyak bicara.
  • Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru dibacanya.
  • Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
  • Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas. dll
  • Lebih memahami bacaan jika membacanya sambil mengeluarkan suara.

3.   Gaya Belajar Kinestetik
      Gaya belajar kinestetik mengandalkan tangan dan gerak motorik untuk menyerap informasi. Individu perlu menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik yaitu :

  • Mengunakan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar terus mengingatnya. Menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya, termasuk saat belajar.
  • Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak.
  • Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar.
  • Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
  • Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, simbol dan lambang.
  • Menyukai praktik/percobaan.
  • Menyukai permainan dan aktivitas fisik.
  • Menyukai praktek langsung.
  • Aktif mengeksplorasi lingkungan.
  • Sulit duduk diam dan tenang dalam waktu lama.
  • Tanpa sadar suka memutar pinsil atau mengggoyang-goyangkan kaki.
  • Lebih memahami bacaan jika sambil menunjukan tulisan yang di baca, atau membacanya sambil mondar-mandir.

Setelah tahu atau setidaknya mengira-ngira gaya belajar anak, maka berikut ini adalah cara-caranya untuk membantu anak kita belajar. Kita dapat melakukan hal-hal berikut ini untuk tiap topik penjelasannya :

  • Visual: tunjukan gambar/ilustrasi, buarkan mindmap dengan warna-warni dan gambar menarik, bantu memilih pelajarannya lewat bagan/diagram/grafik, warnai atau tuliskan kata-kata penting dengan huruf berbeda atau carikan disain yang menarik untuk alat belajarnya.
  • Auditori: rekam suara anda atau guru saat mengajarkan topik dan biarkan anak mendengarkan rekaman kembali ketika belajar, berdiskusi dan mengobrol, ganti lirik lagu favorit dengan kata-kata yang harus dihapalkan anak, juga tunjukan minat terhadap pelajaran lewat intonasi suara anda
  • Kinestetik: selalu usahakan contoh nyata/demonstrasi dari apa yang sedang dipelajari, usahakan belajar dengan membuat tangan dan kakinya bergerak, ajak anak mendramakan apa yang dipelajari, usahakan anak membuat proyek dari pelajaran.

Sebagai orangtua kita pun mesti mengetahui gaya belajar kita. Dengan begitu kita bisa menyinkronkan/menyesuaikan gaya mengajar kita dengan anak.

Jika gaya belajar kita berbeda dengan anak, sangat mungkin kita tidak memahami bahwa hal yang sulit buat kita bisa jadi mudah buat anak, dan sebaliknya hal yang sangat mudah buat kita jadi hal sulit buat anak.

Terimakasih Telah berkunjung dan membaca blog ini semoga bermanfaat. Saran dan keritik bisa tulis kolom komentar dibawah ini.

Selamat mengenal dan mengoptimalkan proses belajar anak kita
Baca selengkapnya

Minggu, 29 April 2018

Peran Guru Dalam Perubahan Bangsa


Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan dua sahabat yang sudah hampir lima tahun tidak bertemu, Topik dan Wawan. Topik adalah karyawan swasta tempat saya dahulu saya bekerja, sedangkan Wawan, teman kuliah yang sekarang seorang guru.

Ada pertanyaan dan keluh kesah dari dua sahabat saya ini yang ingin saya kutip

Topik bertanya kepada saya : " kenapa kamu memilih kerja sebagai guru?"

Sedangkan

Wawan  Mengeluh : " Jenuh juga mengajar anak-anak dan bosan menjadi guru"

Nah, dari kutipan pertanyaan dan keluh kesah dari sahabat ini saya berinisiatif membuat tulisan ini, sebagai bentuk jawab kepada sahabat-sahabatku atau pembaca blog ini. Tulisan ini adalah sebuah harapan dari saya semoga bermanfaat buat semua. yuk kita simak!

Salah satu ciri pemimpin besar bangsa adalah diukur seberapa besar perhatiannya kepada dunia pendidikan. Berbicara pendidikan berarti berbicara masa depan, berbicara perubahan ke arah kemajuan. Instrumen yang paling penting dalam dunia pendidikan adalah guru, karena guru akan berada dalam garda terdepan untuk mengubah pola pikir, pola sikap dan perilaku. Dan dari sinilah awal sebuah kemajuan menuju tatanan dunia baru.

Ketika kota Nagasaki dan Hirosima di bom atom 1945, kaisar jepang bertanya "Berapa guru yang masih hidup?". Dan dimulai dari gurulah Jepang kini mengguncang dunia, langkah tersebut kemudian diikuti oleh banyak negara lain.

Sementara itu Indonesia, sebagai negara yang sangat luas dan jumlah penduduk yang besar, juga sangat memperhatikan dunia pendidikan. Hal itu tercermin dalam UUD 1945 yang di amandemenkan, yang menyatakan 20% anggaran adalah untuk pendidikan.

Salah satu permasalahan yang ada di kalangan guru-guru adalah pada masalah mental. Banyak guru yang memiliki mental tidak seperti 'guru'. Di antara mereka masih banyak yang tidak mentransfer pelajaran melalui skill yang baik. Sehingga tidak ada perubahan pola pikir, pola sikap dan perubahan perilaku pada anak didiknya. Bahkan ada yang masih kurang bersemangat, kurang mampu mengoptimalkan potensi yang ada di sekeliling atau tidak tau harus berbuat apa dalam mengajar.


Bagi seorang guru, mengajar pada hakikatnya adalah seni mengubah perilaku seseorang. Jadi sesungguhnya ada proses dalam terjadinya perubahan pemahaman dengan cara berpikir dan cara bersikap. Ini kemudian di kenal dengan teori Transfer Of Learning, yang melihat bahwa pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang berorientasi transpormasi ilmu pengetahuan menjadi pola pikir dan pola sikap dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman ini sesuai dengan makna pendidikan, yakni seni membentuk manusia dan belajar menjadi salah satu instrumennya.

Menurut Taliziduhu Ndraha (1997)
         "sikap adalah kecenderungan jiwa terhadap sesuatu dan menunjukan aktualisasi pendirian. 
         ia menunjukan arah, potensi dan dorongan menuju sesuatu itu. 
         Sedangkan perilaku(behavior) adalah operasionalisasi dan aktualisasi sikap seseorang 
         terhadap suatu situasi atau kondisi lingkungan".

Dalam proses transformasi pola pikir menjadi sikap dan perilaku, dibutuhkan kapasitas Keteladanan  seorang guru. Kapasitas keteladanan hanya dimiliki oleh guru yang berkarakter . Jadi hanya guru dengan karakter berketeladanan yang akan mampu melakukan perubahan.

Mengingat peran guru yang begitu besar dalam perubahan, maka pengembangan guru yang berkelanjutan menjadi sangat penting. Pengembangan yang dimulai dengan membangkitkan kesadaran akan peran dan tanggung jawab serta kemulian guru. Kemudian dari sisi penguatan perannya sebagai guru teladan yaitu guru yang bisa berperan sebagai Educator, Motivator, Accelerator, sekaligus memiliki Skillfull Operator yang mumpuni.

Baca selengkapnya